Membaca dan menulis merupakan sarana
meraih ilmu dan memperkaya wawasan. Maju
mundurnya suatu peradaban ditentukan oleh tradisi membaca dan menulis
masyarakat. Semakin tinggi budaya baca-tulis masyarakat, semakin maju pula
peradabannya.
Siapa pun yang ingin maju dan
berbuat yang terbaik bagi bangsanya haruslah membiasakan diri dengan aktivitas membaca
dan menulis. Dalam empat keterampilan berbahasa pun keduanya menempati urutan
tertinggi setelah menyimak dan berbicara. Hubungan keduanya sangat erat
bagaikan fondasi-fondasi yang turut memperkokoh sebuah bangunan. Membaca dan
menulis seharusnya sudah mendarah daging dalam jiwa dan raga kita. Orang bijak
mengatakan bahwa membaca adalah jendela dunia, tetapi tidakkah kita ketahui
bahwa membaca juga adalah bagian dari jendela tersebut yaitu kaca. Tanpanya
sebuah jendela takkan bisa utuh, hanya bongkahan kayu berbentuk jendela yang
karenanya mudah tertembus angin. Membaca merupakan solusi bagi siapa saja yang
ingin menulis. Semakin banyak buku yang di baca semakin banyak kosa kata serta
wawasan yang diproduksi. Sama halnya meminum air, semakin banyak air yang diminum
semakin banyak pula air yang dikeluarkan. Namun ketika membaca dijadikan
sebagai pandangan sekilas, “yang penting menulis” tanpa membaca terlebih dahulu
mustahil ide serta wawasan akan tertuang dalam tulisan.
Aktivitas membaca dan menulis masih sangat minim di negara kita. berbeda dengan negara tetangga yang mempunyai motto “sedikit-sedikit membaca,” sedangkan kita hanya “sedikit membaca.” Membaca dan menulis harus dibudayakan, jika tidak maka akan berdampak bagi sumber daya manusia kelak. Budaya copy-paste atau plagiarisme pun bukan tidak mungkin akan kembali menggeliat. Bila itu terjadi maka jati diri serta karakter bangsa akan pudar. Seperti dalam kata bijak, “Bila harta hilang, tak ada yang hilang. Bila kesehatan hilang, sesuatu hilang. Bila karakter hilang, maka segalanya akan hilang.”
Aktivitas membaca dan menulis masih sangat minim di negara kita. berbeda dengan negara tetangga yang mempunyai motto “sedikit-sedikit membaca,” sedangkan kita hanya “sedikit membaca.” Membaca dan menulis harus dibudayakan, jika tidak maka akan berdampak bagi sumber daya manusia kelak. Budaya copy-paste atau plagiarisme pun bukan tidak mungkin akan kembali menggeliat. Bila itu terjadi maka jati diri serta karakter bangsa akan pudar. Seperti dalam kata bijak, “Bila harta hilang, tak ada yang hilang. Bila kesehatan hilang, sesuatu hilang. Bila karakter hilang, maka segalanya akan hilang.”
Seperti yang diungkapkan oleh
Khaerudin Kurniawan dalam buku “Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Cerdas dan
Kreatif”, sebagian orang berpandangan bahwa budaya kita adalah budaya lisan (orality), bukan budaya tulisan (literacy). Jauh sebelum zaman kuno,
kurang sekali peninggalan sejarah kita dalam bentuk lisan (folklore), yang diwariskan turun-temurun. Agaknya, kondisi seperti
ini terus berlangsung sampai sekarang.
Pernyataan di atas semakin menambah
keyakinan bahwa minat menulis kita masih rendah. Rendahnya minat karena kurang
membudayakan baca-tulis. Seseorang dikatakan ahli dalam menulis karena
sebelumnya ia ahli dalam membaca. Sedangkan untuk menciptakan manusia aktif,
cerdas, kreatif, dan terampil ditentukan olah tradisi membaca.
Niat yang Ikhlas
Rasa malas sering menjadi penyebab
setiap orang dalam meraih ilmu, apalagi untuk membaca dan menulis. Tidakkah
kita ketahui bahwa semakin kita malas dalam melakukan sesuatu, semakin sedikit
yang bisa kita lakukan. Tanamkanlah dalam benak kita bahwa “satu hari tidak
mendapat uang itu hal yang biasa, tapi satu hari tidak mendapat ilmu itu hal
yang tidak biasa.”
Tengoklah para sastrawan kita yang sudah
lama malang-melintang dalam dunia kepenulisan. Sebut saja sastrawan asal Pulau
Dewata, Bali. I Gusti Ngurah Putu Wijaya atau yang lebih di kenal dengan Putu
Wijaya. Beliau telah banyak menghasilkan berbagai macam karya sastra dan
karyanya pun masih menjadi cerminan bagi dunia kepenulisan. Ribuan karya sastra
telah dihasilkannya, diantaranya 30 novel, 40 naskah drama, 1.000 cerpen, ratusan
esai, dan berbagai karya lainnya. Ribuan karya tulis yang telah dihasilkannya
tidak cepat merasa puas begitu saja. Putu Wijaya pun dalam setiap hari mampu
mengarang cerita sebanyak 30 halaman. Sungguh sangat pantas dijadikan acuan
bagi siapa saja yang gemar dan punya niat untuk menulis.
Menurut Putu Wijaya, “faktor bakat
berpengaruh tak lebih dari 5 persen.” Itu berarti dalam hal menulis setiap
orang mampu karena tidak didominasi oleh bakat atau kemampuan. Niat yang besar
merupakan pengerak utama dalam memulai segalanya. Niat saja mungkin tak cukup, perlu
adanya kekutaan emosi yang menggerakkan niat. Ketika niat hanya dijadikan
sebagai pelengkap, maka ia takkan berarti apa-apa. Hanya sebuah retorika
belaka. Hakikat orang yang gemar membaca dan menulis ialah ingin meraih sukses.
Siapa pun bisa sukses. Sejatinya kesuksesan ibarat memukul sarang lebah, ketika
kita memukulnya segerombolan lebah keluar dari sarangnya mencari pelaku dan
menyengat tanpa pandang bulu. Jadi siapa pun dan bagaimana pun bisa meraih
sukses tanpa memandang status, baik itu orang kaya, miskin, negeri bahkan
swasta.
Menumbuhkan niat yang ikhlas memang
tak mudah, semua harus berawal dari dalam diri dan dari hal terkecil. Sudah
saatnya bagi kita untuk menenggelamkan diri dalam dunia kreativitas dengan
membudayakan tradisi membaca dan menulis. Siapa banyak membaca dan menulis
mereka menguasai informasi, sedangkan mereka yang menguasai informasi maka
mereka menguasai dunia. Semoga!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar