Perjuangan

Perjuangan ialah menelan kerikil-kerikil tajam
sambil berlari bermil-mil
kemudian menghanyutkannya
ke dasar Samudera

Tasikmalaya-Ciamis, 2012.

Kamis, 01 September 2011

Budayakan Minat Baca Dan Tulis


Membaca dan menulis merupakan sarana meraih ilmu dan memperkaya wawasan.  Maju mundurnya suatu peradaban ditentukan oleh tradisi membaca dan menulis masyarakat. Semakin tinggi budaya baca-tulis masyarakat, semakin maju pula peradabannya.
         Siapa pun yang ingin maju dan berbuat yang terbaik bagi bangsanya haruslah membiasakan diri dengan aktivitas membaca dan menulis. Dalam empat keterampilan berbahasa pun keduanya menempati urutan tertinggi setelah menyimak dan berbicara. Hubungan keduanya sangat erat bagaikan fondasi-fondasi yang turut memperkokoh sebuah bangunan. Membaca dan menulis seharusnya sudah mendarah daging dalam jiwa dan raga kita. Orang bijak mengatakan bahwa membaca adalah jendela dunia, tetapi tidakkah kita ketahui bahwa membaca juga adalah bagian dari jendela tersebut yaitu kaca. Tanpanya sebuah jendela takkan bisa utuh, hanya bongkahan kayu berbentuk jendela yang karenanya mudah tertembus angin. Membaca merupakan solusi bagi siapa saja yang ingin menulis. Semakin banyak buku yang di baca semakin banyak kosa kata serta wawasan yang diproduksi. Sama halnya meminum air, semakin banyak air yang diminum semakin banyak pula air yang dikeluarkan. Namun ketika membaca dijadikan sebagai pandangan sekilas, “yang penting menulis” tanpa membaca terlebih dahulu mustahil ide serta wawasan akan tertuang dalam tulisan.                   
       Aktivitas membaca dan menulis masih sangat minim di negara kita. berbeda dengan negara tetangga yang mempunyai motto “sedikit-sedikit membaca,” sedangkan kita hanya “sedikit membaca.” Membaca dan menulis harus dibudayakan, jika tidak maka akan berdampak bagi sumber daya manusia kelak. Budaya copy-paste atau plagiarisme pun bukan tidak mungkin akan kembali menggeliat. Bila itu terjadi maka jati diri serta karakter bangsa akan pudar. Seperti dalam kata bijak, “Bila harta hilang, tak ada yang hilang. Bila kesehatan hilang, sesuatu hilang. Bila karakter hilang, maka segalanya akan hilang.”
       Seperti yang diungkapkan oleh Khaerudin Kurniawan dalam buku “Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Cerdas dan Kreatif”, sebagian orang berpandangan bahwa budaya kita adalah budaya lisan (orality), bukan budaya tulisan (literacy). Jauh sebelum zaman kuno, kurang sekali peninggalan sejarah kita dalam bentuk lisan (folklore), yang diwariskan turun-temurun. Agaknya, kondisi seperti ini terus berlangsung sampai sekarang.
          Pernyataan di atas semakin menambah keyakinan bahwa minat menulis kita masih rendah. Rendahnya minat karena kurang membudayakan baca-tulis. Seseorang dikatakan ahli dalam menulis karena sebelumnya ia ahli dalam membaca. Sedangkan untuk menciptakan manusia aktif, cerdas, kreatif, dan terampil ditentukan olah tradisi membaca.

Niat yang Ikhlas
Rasa malas sering menjadi penyebab setiap orang dalam meraih ilmu, apalagi untuk membaca dan menulis. Tidakkah kita ketahui bahwa semakin kita malas dalam melakukan sesuatu, semakin sedikit yang bisa kita lakukan. Tanamkanlah dalam benak kita bahwa “satu hari tidak mendapat uang itu hal yang biasa, tapi satu hari tidak mendapat ilmu itu hal yang tidak biasa.”    
Tengoklah para sastrawan kita yang sudah lama malang-melintang dalam dunia kepenulisan. Sebut saja sastrawan asal Pulau Dewata, Bali. I Gusti Ngurah Putu Wijaya atau yang lebih di kenal dengan Putu Wijaya. Beliau telah banyak menghasilkan berbagai macam karya sastra dan karyanya pun masih menjadi cerminan bagi dunia kepenulisan. Ribuan karya sastra telah dihasilkannya, diantaranya 30 novel, 40 naskah drama, 1.000 cerpen, ratusan esai, dan berbagai karya lainnya. Ribuan karya tulis yang telah dihasilkannya tidak cepat merasa puas begitu saja. Putu Wijaya pun dalam setiap hari mampu mengarang cerita sebanyak 30 halaman. Sungguh sangat pantas dijadikan acuan bagi siapa saja yang gemar dan punya niat untuk menulis.
          Menurut Putu Wijaya, “faktor bakat berpengaruh tak lebih dari 5 persen.” Itu berarti dalam hal menulis setiap orang mampu karena tidak didominasi oleh bakat atau kemampuan. Niat yang besar merupakan pengerak utama dalam memulai segalanya. Niat saja mungkin tak cukup, perlu adanya kekutaan emosi yang menggerakkan niat. Ketika niat hanya dijadikan sebagai pelengkap, maka ia takkan berarti apa-apa. Hanya sebuah retorika belaka. Hakikat orang yang gemar membaca dan menulis ialah ingin meraih sukses. Siapa pun bisa sukses. Sejatinya kesuksesan ibarat memukul sarang lebah, ketika kita memukulnya segerombolan lebah keluar dari sarangnya mencari pelaku dan menyengat tanpa pandang bulu. Jadi siapa pun dan bagaimana pun bisa meraih sukses tanpa memandang status, baik itu orang kaya, miskin, negeri bahkan swasta.
            Menumbuhkan niat yang ikhlas memang tak mudah, semua harus berawal dari dalam diri dan dari hal terkecil. Sudah saatnya bagi kita untuk menenggelamkan diri dalam dunia kreativitas dengan membudayakan tradisi membaca dan menulis. Siapa banyak membaca dan menulis mereka menguasai informasi, sedangkan mereka yang menguasai informasi maka mereka menguasai dunia. Semoga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar