
Sebuah Cerpen Aji Septiaji
Mimpi. Satu kata yang makin menyeruak dan membuncah dalam memori. Mimpi
ibarat butir-butir salju di musim dingin. Ia takkan mampu bertahan oleh
panas api matahari sekalipun ia makin mempertebal diri. Mimpi bagai
ruang gaib yang mampu menerjemahkan segala asa. Saat mimpi tak lagi
bersambut, ia bagai rinai hujan pemakan waktu.
Jarum pendek menunjuk pukul 07.00 pagi, waktu seakan cepat berputar.
Andai waktu terhenti dan bisa aku hentikan, aku takkan bangun secepat
ini dari mimpi semalam. Menjadi ratu sejagad, bergelimang harta, dan
gemar beramal. Aku kira hanya aku yang punya mimpi, ternyata setiap
manusia punya mimpi, bahkan manusia yang sudah mati pun masih punya
mimpi tentu saat ia hidup.
Aku seorang perempuan terlahir dari keluarga sederhana. Ayahku meninggal
dua tahun lalu. Kini aku hidup berdua dengan ibuku, ibu yang paling
baik sejagad raya. Ganas api matahari takkan mampu mengurungkan niat
untuk selalu membahagiakannya. Pun bila terang bulan tak mampu lagi
bersinar, aku kan menjadi penerang baginya. Kalimat-kalimat beracun
terucap dari mulut para pendosa: teman, tetangga, bahkan seorang
sahabat. Aku sebut mereka pendosa karena bagiku mereka tak lebih dari
segumpal rayap ketika menggumul kayu hingga habis tak bersisa. Mereka
tak mampu memahami proses, melainkan hanya hasil.
Matahari kian membakar sekujur tubuh, panasnya tak mampu kuelakan.
Semakin aku melawan semakin ia menerjang. Aku lelah dengan perdebatan
siang ini, cuaca yang tak mendukung serta situasi yang mencekam. Setiap
hari aku harus bergulat dengan waktu, kadang juga bercanda bersama
terpaan angin tuk sejenak mengusir keluh-kesah. Masa kecilku tak seperti
anak-anak lain yang dimanjakan oleh orang tua, dan terpenuhi segala
keinginan.Ya inilah hidup, setiap orang punya dunia masing-masing.
Mungkin inilah dunia saya sebenarnya yang harus aku lalui tuk menggapai
satu kata, yaitu "bahagia".
Dalam diam kuratapi arti hidup ini. Anganku melayang membayang sejuta
asa, hiruk-pikuk hidup tak ada dalam imaji. Bergelimang harta dan tahta
adalah hal yang masuk akal bagi hidupku. Namun itulah yang kini menjadi
imaji, mimpi belaka, bahkan hal yang tidak akan pernah terwujud. Meski
akal ini menolak keras, hati tetap teguh. Mencoba berjalan lurus walau
penuh duri. Pun malam tiba aku harus melawan angin dingin juga
rayuan-rayuan maut para lelaki hidung belang, karena bagi mereka aku
adalah apa yang mereka pikirkan, "perempuan penjual harga diri."
Berangkat di pagi buta, pulang tengah malam.
Jika aku tak ingat pesan ayah dulu, mungkin saat ini para pendosa sudah
aku lenyapkan dari pandangan mata. "Lakukanlah apa yang bisa kamu
lakukan, selama itu bermanfaat bagimu. Meskipun buah yang kau tanam tak
selamanya berbuah manis, tapi yakinlah suatu hari nanti buah itu akan
manis." Begitu beliau berpesan. Bagiku kalimat tersebut adalah kalimat
paling indah bahkan kalimat paling sakti yang pernah ku dengar.
***
Hujan begitu deras seakan menyentak keheningan bumi. Kering daun yang
mengering kini membasah, hanyut bersama arus hujan. Makin hari bualan
dari para pendosa makin meruang dan mengimaji dalam memori. Seperti
gelas yang terus menahan air tanpa diminum akhirnya gelas berisi air itu
pun meluap, seperti itulah ibuku saat ini. Tak kuasa menahan bualan
dari para pendosa tentang hidupku akhirnya ia sakit. Dalam ranjang kusam
ia terbaring lemas.
"Zia...." seru ibu.
"Ya bu..." sejenak kutinggalkan pekerjaan di dalam kamar.
"Obat sudah habis, Nak, tolong belikan," nada yang begitu pelan.
"Ya Bu akan segera saya belikan." Bergegas pergi meski di luar sana
hujan masih mendera cukup lebat. Sejenak ku singkirkan tentang hujan,
dalam pikiranku saat ini ialah membeli obat untuk ibu.
Pikirku mulai menjamah tak tentu arah, "Jika ibu telah tiada, bagaimana
dengan hidupku nanti. Apakah aku bisa bertahan hidup atau tidak, mungkin
takkan ada lagi pendorong bagi hidupku kelak." Sambil memandang langit
yang tampak kelam dan legam.
Hujan semakin deras seolah tak ingin akrab dengan jiwa dan raga. Ia
terus saja membasuh jalanan, menghentikan langkah tuk berpulang. Raga
memang sedang menunggu hujan reda, namun pikiran dan perasaan ini selalu
tertuju pada ibu yang terbaring lemah.
"Ya Allah.. lindungilah ia sebagaimana Engkau melindungi saya," dalam
hati berucap keras. Tiga puluh menit berlalu hujan pun berlalu, aku
mulai berlari secepat kilat tuk sampai ke rumah.
Sejauh mata memandang kerumunan orang berkumpul di luar rumah bagai
semut mengkerumuni gula. Hati memang tak pernah salah, apa yang aku
khawatirkan akhirnya menjadi kenyataan.
"Zia.. ibumu..." ucap seorang tetangga
"Ada apa dengan ibuku...?" kataku dengan hati yang tak tentu.
"Ibumu sudah tiada..." menyahut dengan nada pelan.
Bagai tersambar petir di siang bolong, bagai api matahari mendekat
dalam pelukan, bagai bumi menghimpit raga. Seperti itulah perasaan dan
pikiranku saat ini. Entah harus berucap apa, entah harus berlaku apa.
Kacau dan galau.
"Ya Allah.... mengapa Engkau mengambil ibuku secepat ini di saat aku
sangat membutuhkannya, butuh kasihnya, sayangnya, cintanya, tatapannya,
juga dekapannya," ucapku keras dalam hati, meski suara hati tak mampu
didengar oleh orang lain kecuali Allah.
Ikhlas, satu kata yang kini harus aku ucap, ingat, dan lakukan. Betapa
berat jalan hidup ini. Semua aku tulis dalam catatan takdirku, namun
tentangmu ibu, bukan hanya aku tulis dalam catatan, akan aku ingat
selalu dalam setiap derap langkah.
Ayah, ibu, engkaulah kalimat-kalimat sakti dalam setiap detak jantung dan hembus napas. Kisahmu akan selalu terimaji.***
*Diterbitkan pada Harian Umum Kabar Priangan Edisi Rabu, 25 Januari 2012.