Fatamorgana Malam
Telah aku lewati bulan di atas menara
cahyanya perlahan memudar
berpendar di sela sela kamar
Aku yang ada pada saat itu
Seakan terjelembab
dalam fase fase fatamorgana:
antara malam dan pagi
Namun aku asingkan malam,
hingga pagi mulai bicara:
Embun pagi seolah memalsukan diri
pada hijau daundaun
Angin pagi seolah menampak diri
pada gerak gerik daun
Pula matahari pagi seolah menancap diri
pada akarakar daun
Malam, aku memang mengasingkan
namun malam, engkau akan cepat datang
setelah suasana pagi mulai habis....
antara malam dan pagi
Namun aku asingkan malam,
hingga pagi mulai bicara:
Embun pagi seolah memalsukan diri
pada hijau daundaun
Angin pagi seolah menampak diri
pada gerak gerik daun
Pula matahari pagi seolah menancap diri
pada akarakar daun
Malam, aku memang mengasingkan
namun malam, engkau akan cepat datang
setelah suasana pagi mulai habis....
2012
Episode Daun Kering
Sepoi pagi menepi pada daundaun
Kibasnya memalingkan muka
Melaju hingga jauh
Demi waktu yang menahun
Mereka menggugur diri
Pohon pohon bercerai berai,
tak lagi rimbun.
Mereka harus memakan zaman
Mereka harus memakan zaman
2012
Jejak Dalam Ruhmu
Entah berapa kali
Aku melewati jejak matahari
Sinarnya memancar
Berpendar
Memudar dalam ruhmu
Ruhmu memang tak setajam dulu
Setajam mata pisau
Yang mampu menyeka dada
Bila ku ingat masa lalu
Tentu energi energi dalam tubuhku
Kan bercampur baur:
“antara duka dan luka”
2012
Dan Malam
Menjelma di antara malam pekat
Meruang di antara malam kuat
Membaur di antara malam kusut
Menggaib di antara malam hebat
Aku dan malam adalah paduan satu nyawa
Aku dan malam adalah padanan satu napas
Aku dan malam adalah gabungan satu ruh
Aku
dan
malam
adalah
satu
Meruang di antara malam kuat
Membaur di antara malam kusut
Menggaib di antara malam hebat
Aku dan malam adalah paduan satu nyawa
Aku dan malam adalah padanan satu napas
Aku dan malam adalah gabungan satu ruh
Aku
dan
malam
adalah
satu
2012
Lidah Api
Aku terpedaya oleh api matahari
Panasnya menciumi kulit kulit
Mencabik raut muka
Memudarkan hitaman rambut
Pun aroma dalam tubuhmu
Mengikuti alur matahari:
Aku seolah turut terbakar oleh cacian apimu.
Aku harap:
Redakanlah apimu,
semayamkanlah apimu dalam-dalam,
semayamkanlah apimu dalam-dalam,
dan
Bekukanlah lidah apimu.
Sebelum:
Apimu menjalar ke dalam nyawamu.
2012
*Diterbitkan pada Harian Umum Kabar Priangan Edisi Rabu, 28 Maret 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar